Komunikasidakwah’s Weblog

September 12, 2008

KENYANGKAN PERUT RAKYAT

Filed under: Uncategorized — komunikasidakwah @ 11:45 pm

Gubernur Azerbijen di masa pemerintahan Umar bin Khaththab di suguhi makanan oleh rakyatnya. Kebiasaan yang lazim kala itu. Dengan senang hati, gubernur menerimanya seraya bertanya, “Apa nama makanan ini ?”

“Namanya habish. Ia terbuat dari minyak samin dan kurma,” jawab salah seorang dari mereka.

Sang gebernur segera mencicipi makanan itu. Sejenak kemudian bibirnya menyunggingkan senyum. “Subhanallah! Betapa manis dan enak makanan ini. Tentu kalau makanan ini kita kirim kepada Amirul Mukminin Umar bin Khaththab di Madinah, ia akan senang,” ujar Utbah. Kemudian, ia memerintahkan rakyatnya untuk membuat makanan tersebut dengan kadar yang lebih enak.

Setelah makanan tersedia, sang gubernur memerintahkan anak buahnya untuk berangkat ke Madinah dan membawa habish buat Khalifah Umar bin Khaththab. Dua utusan segera berangkat ke Madinah. Mereka menyerahkan makanan khas Azerbijen pada Umar bin Khaththab. Sang Khalifah segera membuka dan mencicipinya.

“Makanan apa ini ?” tanya Umar.

“Makanan ini namanya habish. Makanan paling lezat di Azerbijan,” jawab salah seorang utusan.

“Apakah seluruh rakyat Azerbijan bisa menikmati makanan ini ?” tanya Umar lagi.

“Ti…tidak. Tidak semua bisa menikmatinya,” jawab utusan itu gugup.

Wajah sang khalifah langsung memerah bertanda marah. Ia segera memerintahkan kedua utusan itu untuk membawa kembali habish ke negerinya. Kepada gubernurnya ia menulis surat, “….Makanan semanis dan selezat ini bukan dibuat dari uang ayah dan ibumu. Kenyangkan perut rakyatmu dengan makanan ini sebelum engkau mengenyangkan perutmu.”

Kisah yang diabadikan Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Manaqib Amirul Mukminin ini, memberikan pelajaran yang teramat berharga bagi umat Islam, khususnya para pemimpin. Umar bin Khaththab telah memberikan pelajaran teramat berarti.

Pemimpin harus memikirkan rakyat sebelum dirinya sendiri. Dalam kesempatan lain Umar pernah menyatakan, “Saya orang pertama yang merasakan lapar kalau rakyat kelaparan dan orang terakhir yang merasakan kenyang kalau mereka kenyang.”

Pada hakikatnya, seperti disabdakan Rasulullah saw, pemimpin adalah penggembala (raain). Bagaimana tugas penggembala, begitulah tugas pemimpin. Hasan Bashri, seorang ulama zahid di masanya pernah berkata kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz, “Pemimpin yang adil laksana seorang penggembala mengasihi hewan gembalaannya. Ia membawa gembalaannya ke tengah padang rumput yang luas dan subur. Dia menjaganya agar tidak diterkam binatang buas. Ia selalu mengawasinya agar tidak kelaparan dan kehausan.”

Prinsip ini harus dimiliki oleh para pemimpin dan orang-orang kaya di negeri ini. Bahkan, seharusnya rakyat menjadikan prinsip ini sebagai kaidah memilih pemimpin. Rakyat harus memilih calon pemimpin yang lebih peduli dan memikirkan rakyat. Bukan pemimpin yang mengejar jabatan dan mempertahankannya.

Potret kesenjangan sosial di negeri ini seharusnya menyadarkan kita semua. Sangat ironis, memang. Di tengah tengadah jutaan tangan peminta-peminta, di tengah ribuan anak-anak terlantar, kita saksikan juga jutaan mobil mewah melintas. Di tengah kumuhnya perumahan orang-orang miskin, berdiri gedung mewah bertingkat. Bahkan, pemandangan kontras itu kerap kita saksikan begitu kasat mata. Ya, gedung mewah bertingkat bertetangga langsung dengan rumah reot yang teramat sederhana.

Hal lain yang dapat dipetik dari sikap Umar dalam kisah di atas adalah larangan menjilat atasan. Tentu tak ada niat buruk dalam benak gubernur Azerbijen, Utbah bin Farqad untuk menjilat atasannya. Ia hanya ingin menyenangkan hati sang Khalifah. Tapi, Umar bin Khaththab tak menginginkan hal itu. Ia bukan tak mau dihargai, tapi ia lebih mementingkan rakyatnya.

Ironisnya, sikap para pemimpin saat ini justru sebaliknya. Mereka lebih banyak yang berpikir bagaimana menyenangkan atasan ketimbang memikirkan bawahan (baca : rakyat). Cari muka, menjilat dan sikap ABS (Asal Bapak Senang) menjadi tren para pemimpin saat ini. Bahkan, mereka tak peduli walaupun harus mengorbankan prinsip dan kepentingan umat. Bahkan lagi, mereka tak berpikir siapa atasan yang mereka jilat. Yang ada dalam benaknya, bagaimana jabatan itu tetap berada dalam genggamannya atau mendapat jabatan yang lebih tinggi.

Menjelang pemilihan presiden seperti saat ini, para penjilat menjamur. Semua berlomba memberikan dukungan kepada para calon presiden dan wakilnya. Diharapkan, kalau orang yang didukungnya terpilih, ia akan mendapatkan jabatan. Ia tak peduli meski harus korupsi atau menggunakan uang rakyat. Akibatnya, jika ia benar-benar terpilih, yang ada dalam benaknya bagaimana mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk mengganti kekayaannya yang hilang.

Sikap ini akan berdampak juga pada calon yang didukungnya. Jika terpilih, ia merasa punya utang untuk memberikan jabatan pada para pendukungnya. Kredibilitas dan profesionalitas diabaikan. Nepotisme tentu akan kian merebak. Pemimpin yang selalu mendapatkan sogokan dari bawahannya yang bersalah. Sangat berbeda kalau antara pemimpin dan bawahan tak terjalin ikatan “utang”. Atasan takkan segan memberhentikan bawahannya yang bersalah.

Akhirnya, diperlukan pemimpin yang adil dan independen untuk membebaskan umat dari keterpurukan. Kesejahteraan yang terjadi di masa Umar bin Abdul Aziz bukan hanya lantaran meningkatnya penghasilan rakyat, tapi juga tersebarnya kekayaan secara adil. Tanpa pemimpin adil dan peduli, kita tak bisa berharap rakyat akan hidup sejahtera.*

Juli 24, 2010

KEBIJAKSANAAN UMAR MENJAGA HATI ISTRI

Filed under: Sejarah Dakwah Islam — komunikasidakwah @ 1:03 pm

Pada suatu hari seorang lelaki datang ke rumah Umar bin Khattab ra. hendak mengadu keburukan
isterinya. Namun setiba disamping rumahnya, ia mendengar isteri Umar bin Khattab mengeluarkan katakata
yang keras dan kasar kepada suaminya, sementara Umar tidak menjawab sepatah kata pun. Akhirnya
orang itu berfikir, sebaiknya ia membatalkan saja niatnya.

Ketika orang itu hendak berbalik pulang, Umar baru saja keluar dari pintu rumahnya. Umar segera
berteriak memanggil orang itu. Umar langsung berkata kepadanya, “Engkau datang kepadaku tentu
hendak membawa satu berita penting!”

Orang itu lalu berkata terus terang, “Ya sahabat Umar bin Khattab, aku datang kepadamu hendak
mengadu keburukkan isteriku terhadapku. Akan tetapi setelah aku mendengar kelancangan isterimu tadi
terhadapmu, dan sikap diammu terhadap perbuatannya, aku jadi mengurungkan niatku untk melaporkan
hal itu.”

Mendengar perkataan yang jujur itu, Umar tersenyum kecil seraya berkata, “Wahai saudaraku, isteriku
telah memasakkan makanan untukku. Dia juga telah mencuci pakaianku, mengurus urusan rumahku, dan
mengasuh anak-anakku sehingga tiada hentinya. Maka apabila ia berbuat satu dua kesalahan, tidaklah
layak kita mengenangnya, sedang kebaikan-kebaikannya kita lupakan. Ketahuilah, wahai saudaraku,
antara kami dan dia hanya ada dua hari. Kalau kami tidak meninggalkannya dan terbebas dari
perangainya, maka dia akan meninggalkan kami dan terbebas dari perangai kami pula.”

Setelah mendengar penuturan yang amat bijak dan penuh hikmah itu, orang itu pergi meninggalkan Umar
bin Khattab dengan hati gembira dan puas.

di kutip dari e-Islamic Arcticle

November 7, 2009

Umar Bin Abdil Aziz Khalifah “Teladan bagi Semua Pejabat Negara”

Filed under: Uncategorized — komunikasidakwah @ 3:14 am

Umar bin Abdil Aziz bin Marwan bin Hakam ibnul Ash bin Umayyah bin Abdi Syams, adalah seorang keturunan bangsawan Bani Umayyah. Ibunya Laila binti Ashim bin Umar bin Khattab. Jadi dari garis keturunan ibu, ibunya adalah cucu dari khalifah ke-2 Umar bin Khattab.

Ia lahir tahun 61 H dan meninggal tahun 101 H jadi hanya berusia 40 tahun, dalam usia yang masih muda. Dan ia memerintah juga sangat pendek waktunya, hanya kurang lebih dua setengah tahun. Walaupun usianya pendek dan memerintah dalam waktu relatif singkat, tetapi riwayat kehidupan dan pemerintahannya ditulis dengan tinta emas dalam sejarah Islam. Ayahnya sendiri adalah seorang gubernur/amir di Mesir pada tahun 65 H.

Ketika Umar bin Abdil Aziz didaulat dan dibai’at oleh kaum muslimin untuk menjadi khalifah menggantikan khalifah sebelumnya yang wafat, yaitu Sulaiman bin Abd Malik, semula ia dengan tegas menolak. Tetapi karena terus didesak oleh kaum muslimin, terpaksa juga ia menerima sambil mengucap istirja’ (mengucap: inna lillahi wa innaa ilaihi raji’un) seperti orang yang ditimpa musibah, dan bukannya mengucapkan alhamdulillah seperti layaknya orang yang baru menerima anugerah satu nikmat atau rahmat.

Ia berpidato: “Demi Allah, ini sama sekali bukanlah atas permintaanku, baik secara rahasia ataupun terang-terangan.”

Umar bin Abdil Aziz adalah seorang khalifah dinasti Bani Umayyah yang memerintah negara dengan jujur dan adil, hidup penuh kesederhanaan, zuhud dan wara. Beliau adalah seorang kepala negara yang alim, luas ilmunya.

Di antara sikap hidup dan langkah-langkah yang diambil oleh Umar bin Abdil Aziz sebagai khalifah ialah:

Pertama, pembukuan hadis. Menurut Fathul Bary: “Dan awal pertama orang yang membukukan hadis adalah Ibnu Syihab az-Zuhry pada penghujung tahun 100 H atas perintah Umar bin Abdil Aziz. Kemudian banyaklah perkembangan dan penulisan hadis itu, dan hal ini membuahkan hasil yang banyak sekali kegunaannya.”

Tersebut pula dalam matan Al-Bukhariy atas catatan al Fathul Bary dalam Bab Kaifa Yuqbadlul Ilmu: “Umar bin Abdil Aziz telah menginstruksikan kepada Gubernur Madinah, Abu Bakar bin Hazmin: Telitilah hadis Rasulullah, kemudian tuliskanlah, karena saya khawatir terhadap pelajaran ilmu pengetahuan sedang ulama tak ada lagi.”

Dalam Fathul Bary kisah ini diriwayatkan dengan lafaz: “Umar bin Abdil Aziz telah mengirim surat ke seluruh pelosok: “Perhatikanlah oleh kamu semua Hadis Rasulullah saw kemudian himpunkanlah hadis itu.”

Kedua, membasmi feodalisme. Umar bin Abdil Aziz adalah seorang khalifah keturunan kaum feodal Bani Umayyah, tetapi ia sangat menentang feodalisme itu dalam tindak tanduknya selama memegang pimpinan negara. Ia tidak setuju cara-cara kaum feodal yang menguasai banyak tanah luas untuk kepentingan kerabat-kerabat istana.

Dan ia sendiri membuktikan, bahwa tanah-tanah milik pribadinya sendiri yang luas diberikannya ke baitul mal untuk kepentingan seluruh kaum muslimin. Ia tidak setuju, bahwa kaum kerabat istana diberi penghasilan dalam jumlah yang besar yang diambilkan dari budget mata anggaran negara, walaupun mereka tidak bekerja. Ia menganggap hal seperti itu tidak adil. Semua cara dan praktik feodalisme gaya lama itu dia hapus dan akhiri sama sekali.

Ketiga, hidup sederhana dan antikorupsi. Kalau banyak kepala negara lain berusaha bagaimana caranya memperkaya diri dan keluarganya setelah menjadi kepala negara, maka Umar bin Abdil Aziz berpikir dan berusaha agar dirinya bersih lahir dan batin, dengan cara hidup sederhana, zuhud dan wara.

Harta kekayaannya sebelum menjadi khalifah berlimpah-limpah. Ia memiliki tanah perkebunan di Hijaz, Syam, Mesir dan Bahrain. Dari sana ia berolah penghasilan yang besar, sebanyak tidak kurang dari 40.000 dinar setiap tahun. Belum lagi penghasilan/gajinya sebagai khalifah. Semuanya itu diserahkannya ke Baitul Mal untuk kepentingan kaum muslimin, dan ia hanya menggunakan 2 dirham saja dari kekayaannya itu.

Keteladanan

Suatu hari, khalifah Umar datang terlambat ke mesjid, padahal hari itu ia harus menjadi khatib Jumat di mesjid. Orang banyak menjadi gelisah menanti beliau di mesjid. Berceritera Na’im, saya berjalan dan mendatangi Umar bin Abdil Aziz di rumahnya dan bertanya kepadanya yang sedang duduk di dekat jemuran kainnya: “Kenapa engkau duduk di sini?” Jawab Umar: “Saya duduk di sini menanti kainku yang dicuci dan belum kering untuk dipakai naik mimbar berkhutbah.” Aku bertanya: kain apakah itu? Beliau menjawab: Baju gamis, sarung dan selendang yang harganya 14 dirham.

Bayangkanlah, seorang kepala negara, tidak mempunyai pakaian reserve untuk dipakainya berkhutbah, ia mencuci sendiri pakaiannya karena tidak mempunyai pembantu! Dan 1 set pakaiannya itu berharga tidak sampai 1 dinar.

Beliau sangat antikorupsi dan jalan-jalan yang tidak lurus dalam memperoleh nafkah.

Keempat, pemaaf dan penyantun. Walaupun sebagai kepala negara yang berkuasa, Umar bin Abdil Aziz senantiasa bersikap rendah hati, pemaaf dan penyantun terhadap sesamanya. Pada suatu ketika ia masuk ke mesjid diiringi pengawal pribadinya. Di dalam mesjid pada bagian yang agak gelap, tiba-tiba kakinya tertarung/terkait kaki seorang laki-laki yang sedang tiduran di mesjid.

Orang tersebut yang tidak mengetahui bahwa yang lewat itu adalah khalifah, menjadi marah-marah dan berkata kasar: “Apakah engkau gila?” Umar langsung menjawab: “tidak.” Mendengar khalifah di katakan gila oleh laki-laki itu, maka pengawal khalifah menjadi marah dan bergerak untuk memukul laki-laki itu, tetapi Umar mencegahnya. “Orang itu tidak berbuat apa-apa, dia cuma bertanya: “apakah engkau gila?” dan telah saya jawab: “tidak.”

Kelima, memecat para pejabat yang zalim. Langkah pertama yang sangat prinsip yang dilakukan oleh Umar bin Abdil Aziz adalah memulihkan keadilan dan kebenaran dengan jalan memecat para pejabat yang zalim dan korup dan menggantinya dengan pejabat baru yang adil dan benar, walaupun bukan dari golongan keluarganya atau keluarga Bani Umayyah.

“Engkau telah memperdayakan saya dengan sorban hitammy,” demikian antara lain bunyi surat Khalifah Umar kepada Gubernur Basrah yang dipecatnya, yaitu ‘Ady bin Arthaah. Dipecatnya juga Yazid ibnu Abi Muslim, Gubernur Afrika Utara, Shalih ibnu Abdirrahman, Gubernur Irak dan As Tsaqafi, Gubernur Andalus. Umar tidak kompromi dengan kezaliman dan ketidak jujuran.

Benarlah apa yang pernah dikatakan oleh sejarawan dan moralis Inggris, Lord Acton: “Kekuasaan cenderung untuk korup, dan kekuasaan mutlak, korup secara mutlak pula.”

Negarawan dan diplomat besar Perancis, menlu, pernah menjadi dubes di London, Talleyrand berkata: “Segala kekuasaan bisa dicapai dengan ujung bayonet, tetapi tidaklah mungkin orang selamanya duduk di ujung bayonet itu.”

Keenam, menghadap hakim pengadilan. Untuk memberi contoh kepada rakyatnya bagaimana seseorang harus menghormati hukum dan keadilan, maka beliau tidak segan menghadap hakim di pengadilan.

Waktu beliau melakukan perjalanan dinas ke Mesir, tiba-tiba seorang penduduknya yang berasal dari Hulwan (kurang lebih 25 km dari Kairo) datang menuntut khalifah supaya hartanya berupa tanah yang diambil oleh ayah Umar ketika ayahnya itu menjadi gubernur di Mesir untuk pembangunan daerah itu, diganti harganya. Umar menjawab, seyogianya hal itu diselesaikan lewat pengadilan.

Di depan hakim pengadilan, setelah perkara itu diproses dengan cara yang benar oleh hakim, Umar tunduk untuk memberikan ganti rugi sebesar 1 juta dirham. Umar berkata, semoga Allah memberkahi engkau wahai tuan hakim! Dan kemudian si penggugat pun berkata: “semoga Allah memberi berkah kepada engkau wahai khalifah, dan juga kepada seluruh rakyat engkau. Semoga ke negeri Mesir ini berpindah pula keadilan sebagaimana keadilan yang engkau miliki, dan keimanan agung yang engkau punyai.”

Sederhana

Timbul pertanyaan kita sekarang, apakah seorang pejabat tinggi mau dengan penuh kesadaran datang ke pengadilan memenuhi panggilan hakim, duduk setara dengan lawannya berperkara?

Khalifah Umar bin Abdil Aziz meninggal dunia pada bulan Rajab tahun 101 H di rumahnya yang sederhana di ibukota kerajaan Islam, Damaskus, dalam usia 40 tahun, usia yang masih sangat muda.

Sebelum meninggal, terdengar beliau membaca firman Allah surah Alqashash 83: “Surga akhirat itu Kami (Allah) peruntukkan bagi orang-orang yang tidak menginginkan kemegahan di muka bumi ini dan tidak pula membuat kebinasaan. Dan kemenangan akhir itu adalah bagi orang-orang yang takwa.”

Mungkin di antara kita ada yang bertanya, berapa banyak harta benda yang ditinggalkannya sebagai warisan buat kaum keluarganya? Umar bin Abdil Aziz adalah anak keturunan bangsawan yang kaya raya, dan sebelum menjadi khalifah ia telah memiliki harta yang berlimpah ruah.

Tetapi sebagai seorang khalifah yang zuhud, semua hartanya yang banyak itu diserahkannya kepada baitul mal/negara untuk kepentingan umum, dan ia hanya berbelanja harian sebanyak 2 dirham bagaikan orang miskin layaknya.

Pada waktu meninggal dunia, Umar bin Abdil Azis hartanya cuma 17 dinar yang kemudian dibagi-bagi untuk kepentingan penyelenggaraan pemakamannya sebagai berikut: 5 dinar untuk kain kafan, 2 dinar untuk tanah pekuburannya, dan sisanya 10 dinar untuk dibagikan kepada anaknya yang berjumlah 11 orang.

Sehingga setiap orang anak beroleh bagian 19 dirham saja. Sungguh sangat mengharukan sekali, apalagi kalau dibandingkan dengan anak-anak khalifah lain yang ditinggalkan oleh ayahnya seperti putera khalifah Hisyam bin Abdil Malik yang juga meninggalkan anak 11 orang. Setiap anak Hisyam mendapat bagian warisan 1 juta dinar (lebih dari 10 miliar?)

Demikianlah kehidupan pribadi kepala negara teladan, Umar bin Abdil Aziz yang patut ditiru dan diteladani oleh setiap orang yang ingin menjadi pemimpin yang menunaikan amanah yang terpikul di atas pundaknya.

Berbagai sanjungan dan pujian ditujukan kepadanya. Sebagai contoh, Sufyan as-Tsaury dan muridnya Iman Stafi’i berkata: “Para khalifah itu sebenarnya hanya 5 orang saja: Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan Umar bin Abdil Aziz. Yang lainnya adalah para pelawak belaka.” Wallahu a’lam.

(Disunting dari Sejarah Perkembangan Islam)

April 22, 2009

Para Khalifah dalam Lintasan Sejarah

Filed under: Sejarah Dakwah Islam — komunikasidakwah @ 1:08 am

Islamuda.com

Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kaum muslimin agar mereka mengangkat seorang khalifah setelah beliau SAW wafat, yang dibai’at dengan bai’at syar’iy untuk memerintahkan kaum muslimin berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW. Menegakkan syari’at Allah, dan berjihad bersama kaum muslimin melawan musuh-musuh Allah. (lagi…)

April 17, 2009

Islamic Hijri Calendar

Filed under: Uncategorized — komunikasidakwah @ 6:23 am

September 19, 2008

Orientasi Pers Kita, Kemanakah?

Filed under: Uncategorized — komunikasidakwah @ 1:12 am

Dalam pandangan penganut aliran kritis, tidak dikenal media massa yang independent dari semua intervensi kepentingan praksis maupun ideologis (positif maupun negatif). Media massa dalam setiap pemberitaannya, bukan hanya manifestasi dari perhatian media massa tersebut terhadap lingkungan sekitarnya, tetapi juga menyiratkan adanya keterkaitan atas dasar simbiosis mutualisme yang terjalin antara media massa dengan pihak lain yang secara langsung maupun tidak langsung mendapat keuntungan dari pemberitaan tersebut. (lagi…)

September 18, 2008

Matinya Media Massa

Filed under: Uncategorized — komunikasidakwah @ 1:15 am

Jamaknya sebuah media massa, didalamnya termaktub kumpulan manusia cerdas dan kritis, pastilah mempunyai idealisme dan tujuan mulia untuk mencerdaskan para pembacanya dengan cara dan metode yang beragam, namun semua itu butuh perjuangan dan kesabaran yang lebih.

Tribulasi dalam dunia “kurir informasi” di negeri, ini dari awal dicetuskannya sampai sekarang hanya satu…kebebasan menyalurkan nilai-nilai yang berserakan di segala penjuru dan pelosok negeri ini, agar diketahui khalayak yang pada akhirnya akan meng-upgrade siapa saja yang menerima pesan tersebut.

Seperti seorang manusia yang diuji Alloh dengan kesusahan dan kemiskinan agar dia lebih mendekatkan diri pada-Nya, akan lebih banyak orang yang lolos dari ujian tersebut ketimbang orang tersebut diuji dengan kakayaan dan segala kesenangan. Begitupun dengan media massa.

Awal dicetuskannya media massa sekitar tahun 1712, langsung mendapat tekanan dari VOC yang merasa khawatir semua informasi tentang VOC akan diketahui oleh saingannya. Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 tidak diikuti dengan kemerdekaan pers, selama masa orde lama sampai orde baru media massa dipaksa menjadi “budak” penguasa untuk menciptakan kesan baik di masyarakat dan menutupi segala kebusukan yang telah diperbuat penguasa pada masa itu. “Romusha” dalam dunia pers tersebut akhirnya berakhir tahun 1998.

Awalnya semua orang-bahkan insan media- menganggap bahwa kebebasan itu adalah cahaya terang kebangkitan pers dari jeruji pembredelan dan penangkapan penguasa negeri ini, namun makin kesini-menurut saya- persoalan justru timbul kembali, bahkan makin mengkhawatirkan.

Kebebasan pers sekarang ini, justru makin membawa dunia media massa kepada kematiannya. Kematian dari idealisme yang sejak awal diperjuangkan, yaitu agar khalayak mendapat informasi secara seutuhnya, kini idealisme itu mulai tergusur oleh kepentingan para kapitalis. Alih-alih kebebasan pers dan informasi, mereka cekoki masyarakat dengan berita dan tontonan yang akan makin memperbodoh masyarakat, tabloid cabul, film hantu yang menambah kumpulan orang irasional, berita kekerasan yang diekploitasi dan untuk semua umur, sinetron yang menawarkan kemawahan palsu,kuis-kuis yang membuat orang malas bekerja, media online yang dikepung dengan wanita-wanita telanjang, dan seabrek “program sampah” yang membuat kotor dan malas otak warga negeri ini.

Kalau mau hitung-hitungan, dari semua media cetak dan elektonik yang ada, berapa banyak yang membuat cerdas masyarakat?,

dari point yang membuat cerdas tersebut?, berapa banyak yang konsisten?,

dari yang konsisten tersebut?, berapa banyak yang dibuat secara serius dan semenarik mungkin sehingga digemari masyarakat?

Lalu konversikan dengan tingkat pendidikan dan minat baca para penduduk negeri ini?

Bagai buah simakalama…. saat media dikekang ruang geraknya, setiap berita yang keluar hampir dapat dipastikan adalah hasil dari tekanan sang penguasa kepada media agar citra sang penguasa tersebut tetap baik, tanpa campur tangan insan media itu sendiri. Namun saat kebebasan media massa sudah dicapai seperti sekarang ini, yang memegang tali kekang pengatur media massa adalah kaum kapitalis yang hanya berorientasi kepada keuntungan pribadinya, tanpa mempedulikan tujuan dari media massa itu sendiri yang juga merupakan cita-cita para insan pers dan media.

Mengutip perkataan Andy F Noya dalam acara kick andy, ”sudah banyak program acara yang mengasah akal, namun sedikit program yang mengasah hati dan nurani”. Mungkin inilah akar permasalahannya-setidaknya menurut saya-, masyarakat terlalu banyak disuguhi ”program akal dan fikiran”-yang negatif-, sehingga nurani dan hati mereka menjadi minoritas peranannya dalam kehidupan sehari-hari.

Yang harus menjadi renungan kita bersama adalah, media massa bukan sekedar menyampaikan kepada masyarakat peristiwa dan pendapat yang mempunyai nilai berita, tanpa peduli itu akan berefek samping baik atau buruk, namun juga sebagai salah satu elemen terpenting dalam membentuk masyarakat tersebut berakhlak dan beradab juga cerdas dalam menjalani setiap kehidupannya, yang pada akhirnya akan membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju. Tetapi… kalau dalam perjalanan sekarang ini tujuan itu makin sulit diraih dan harapan pun makin tipis, maka itu adalah tanda dari matinya media massa. (M Ridwan)

September 15, 2008

Internet, Tren Baru Media Dakwah

Filed under: Uncategorized — komunikasidakwah @ 6:52 am

Ada tren baru sejumlah ulama dan intelektual Muslim di Maroko. Mereka mulai menggunakan internet untuk merangkul pemirsa

Hidayatullah.com—Ada perkembangan menarik dalam dunia dakwah di Maroko. Sejumlah ulama memanfaatkan dunia maya untuk merangkul pemirsa.

“Kehadiran Internet menjadi suatu kebutuhan masa kini. Internet menjadi budaya dunia,” ujar Mustapha Bin Hamza, profesor di University of Mohammed I dan ketua ilmu syariah di Kota Oujda.

Banyak ulama memiliki situs website sendiri yang berisi hasil ceramah dan ajaran mereka sendiri. Juga berbagai hasil riset, opini ulama tentang berbagai hal yang terkait syariah.

Kebanyakan situs website juga termasuk bagian khusus untuk menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan pembaca.

Di antara intelektual Muslim terkenal yang memiliki situs website sendiri adalah Dr Ahmed El-Raissouni, Sheikh Abdel-Salam Yassin, Sheikh Abdullah Belmadani, Dr Al-Tuhami Al-Raji Al-Hashimi, Sheikh Abdel-Bari Al-Zamzami dan ulama Mohamed Al-Magharrawi.

“Membuka dunia ini (internet) akan memperkuat interaksi dengan publik dengan membaca opini yang dikemukakan ulama tentang banyak isu,” ujar Ben Hamza.

Menurutnya, website memberikan peluang untuk memenuhi tuntutan dari masyarakat Maroko tentang pendapat ulama berkaitan dengan banyak isu yang berhubungan dengan Islam.

“Selama ini, orang Maroko cenderung membuka situs website milik non-Maroko tentang berbagai fatwa yang tidak mengikuti mazhab Maliki,” jelas Ben Hamza. Mazhab Maliki termasuk satu dari empat mazhab fikih dalam Islam dan menjadi mazhab yang dominan di Maroko.

Tendensi terbaru ini jelas menjadi berita bagus bagi orang Maroko.

Website ini berperan penting untuk mendekatkan masyarakat Maroko dengan ulama melalui interaksi langsung,” ujar Sanaa, seorang wartawan. [iol/tbt/www.hidayatullah.com]

Agustus 25, 2008

Hello world!

Filed under: Uncategorized — komunikasidakwah @ 11:25 pm

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Tema: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.